Julaiha Kembali memandang Jam yang berdetak di dinding.pikirannya mulai terusik rasa khawatir.sudah Pukul sebelas lewat lima, tapi suaminya belum juga pulang, SMS yang terakhir diterimanya sempat membuat dirinya bahagia sesaat. Taatkala  Julaiha teringat begitu sayangnya Allah Subhanahu wa Ta’ala pada dirinya dengan memberikan seorang pendamping yang menarik dirinya kembali kejalan yang benar, memimpin dan menerima  dirinya  apa adanya dan mencintai nya dengan penuh rasa kasih sayang.

Julaiha sungguh mengerti bahwa Unsur yang paling kuat untuk mendorong cintanya seorang lelaki kepada istrinya adalah betapa  bahagia dan senangnya tatkala memandang  sang kekasih dalam keadaan yang sangat indah dan menawan. Karena Itulah sebabnya  Julaiha dengan penuh rasa suka mempercantik diri dengan mengenakan pakaian yang sedap di mata dan wangi-wangian di seluruh tubuhnya. Berdandan untuk pahlawan hatinya.

Memang sulit untuk di lupakan noda kehidupan yang bersarang di masa lalunya  Lalu muncul seorang Pria yang lebih muda dua tahun dari dirinya mengajaknya untuk bertaubat dan menjadi seorang muslim yang  taat. Dan seakan tiada henti dirinya untuk  percaya, bahwa dirinya telah bebas dari kepungan api dunia maksiat itu. Dan kini menjadi seorang istri yang shalihah bagi suaminya tercinta yang mengajarkan padanya sesuatu yang “benar” dan kepatuhan yang  tulus sebagai  seorang  pendamping hidup bagi Imran suaminya itu.

Awalnya Dia tidak begitu yakin dan percaya diri akan ketidak sempurnaan yang ia miliki sebagai seorang wanita normal dimata Imran.Lama dia telah hidup tercemar sebagai seorang gadis cantik nan sexy pemuas nafsu, bekerja siang malam hanya untuk melindungi  keluarga dan kedua adiknya dari hembusan beku  kemiskinan.

Alhamdulillah,Imran adalah seorang yang berani dan penuh tanggung jawab yang selalu bersabar , menunggu saat yang tepat untuk memulihkan hidupnya yang telah  terombang-ambing  oleh nafsu duniawi semenjak dia duduk di bangku sekolah dulu. Kenangan Indah yang terus menghujam dalam ingatannya saat  Tanadi mulai sedikit demi sedikit merelakan keputusan Roni anak satu-satunya untuk menjadi seorang Mualaf, dan menikahi dirinya dengan nama Imran.

Dirinya terenyuh akan keikhlasan Roni yang memutuskan untuk mendampingi dirinya seumur hidup, hingga waktu ajal mereka berdua tiba nanti. Demi suami tersayang, Malam seribu bulanpun siap Ia lewati untuk menunggu kekasihnya pulang, menyambutnya dengan tersenyum indah dan mendahuluinya dengan ucapan salam sebelum suaminya melakukan itu pada dirinya. Subhanallah.

Malam ini di meja makan sudah tersedia hidangan tongseng kesukaan imran, dan sejuknya minuman jeruk nipis yang akan menyegarkan dada suaminya itu, melegakan tekanan jiwa dan memulihkan sebuah keletihan ragawi.Tiba-tiba terdengar  suara Klakson motor vespa di depan rumahnya, dan suara mesin menderu-deru yang telah  dikenalinya setiap hari.

Julaiha yang jelita dan menawan itu pun melonjak kegirangan. Dia kembali mengembangkan  senyuman, sebuah shadaqah yang selalu ia letakan dalam lembaran hidup barunya itu.“Alhamdulillah,” kata Julaiha dalam hati ketika Dia menyambut suaminya di depan pintu sedang menjinjing  2 buah durian matang terikat tali plastik kesukaannya. Sungguh “Allah sangat sayang kepada ku. Aku bersyukur malam ini kokoh pulang dengan selamat.”serunya dalam hati.

Advertisements