menikmati raut wajahnya mentah-mentah dari jauh sambil menyembunyikan helai-helai rambut ikalku ke belakang pundak. Sinar Lampu Omni yang remang-remang di dekat kami menyorot wajah Kevin, “He’s look so Cute.” Bisik Ranty mendekat ke daun telingaku, Hanya dalam beberapa menit bersilam, kami sudah berkenalan dengan mereka dan menempatkan posisi mereka masing-masing pada kami.”He is look preety hunk at all” Kevin menawarkanku untuk menambah minum.

Dan dengan sukarela Aku di dikte-nya. Aku melambaikan gelas sampanyeku dan menikmati wangi tubuh si tampan ini saat dia menuangkan liquor dingin itu ke dalam gelasku, dekat dan…sangat dekat. Dibelakangku terdengar suara rintihan manja Ranty. Dia sedang mengendalikan isi kepala Raul, Pria sexy keturunan Ras Arab, yang tak kalah menariknya dengan Kevin. Namun Aku tak peduli padanya, Aku terlalu sibuk sendirian untuk menikmati sesuatu yang detik demi detik semakin memabukanku, yang jelas ini bukan karena 40% alcohol Liquor yang kuteguk.

Seandainya Kevin adalah sebuah Booth telepon umum, mungkin saja Aku sekarang sedang tenggelam di dalam tumpukan keping koin didalamnya, seakan tidak akan pernah habis bagiku untuk memperpanjang waktu antara kami berdua karena tersedianya kepingan koin-koin itu, ahh…Apa yang sedang kamu pikirkan Arie. Nampaknya Aku sudah semakin mabuk dan memancing keluar imajinasi liar dari tempurung kepalaku. Aku mulai memusatkan konsentrasiku dengan mencoba menoleh ke layer telepon selulerku, Aku dan teman-teman selalu melakukannya ketika kami merasa sudah dikuasai oleh pengaruh minuman. Entah apa yang ada di pikiran kami saat melakukan hal tersebut, kami kurang mengerti. Yang jelas ketika Kami melihat lampu menyala dari layar selular kami merasa sedikit nyaman dan tentram.

to be continue…  ( 2 of 6 )

Advertisements